Terjadinya perubahan perilaku konsumsi masyarakat di era digital menjadi perhatian yang serius. Belanja online yang pada awalnya hadir sebagai bentuk kemudahan, efisiensi,dan perluasan akses pasar, kini berkembang menjadi fenomena yang jauh lebih kompleks. Platform digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang transaksi, tetapi juga sebagai lingkungan konsumsi yang sangat persuasif. Rekomendasi algoritmik, notifikasi promosi, flash sale, voucher, cashback, gratis ongkir, gamifikasi, e-wallet, dan layanan Buy Now Pay Later telah mengubah cara konsumen melihat, merespons, dan mengambil keputusan pembelian.
Di satu sisi, perkembangan tersebut memberikan manfaat besar bagi konsumen dan pelaku usaha. Namun, di sisi lain, kemudahan dan intensitas stimulus digital juga menghadirkan tantangan baru dalam perilaku konsumen, terutama ketika aktivitas belanja online mulai bergeser dari kebutuhan rasional menjadi dorongan berulang yang sulit dikendalikan. Dalam konteks inilah, Online Shopping Addiction menjadi isu penting untuk dipahami, bukan hanya sebagai persoalan individu, tetapi juga sebagai fenomena yang berkaitan dengan desain platform, tekanan sosial digital, nilai konsumsi, kemudahan pembayaran, serta kesejahteraan konsumen.





